Artikel ini disusun berdasarkan sesi wawancara Program Spektra Journey Episode 5, Selasa 7 Juli 2026, bersama narasumber Bapak Sastro Suwardi, alumni
Disarikan dari sesi ngobrol bareng di Program Spektra Journey Episode 5 (Selasa, 7 Juli 2026) bersama Bapak Sastro Suwardi, siswa angkatan pertama tahun 1980 MA Tarbiyatul Banin, Desa Pekalongan, Winong, Pati, Jawa Tengah.
Halo, para alumni angkatan pertama tahun 1980, juga adik-adik angkatan selanjutnya dari Pekalongan, Winong, Pati.
Kali ini kita hanya akan sedikit bernostalgia dan mengingat kembali bagaimana cikal bakal Madrasah Tarbiyatul Banin kita berdiri tegak hingga sekarang. Cerita ini kita dapatkan langsung dari Mas Suwardi, kelahiran 14 Januari 1963, asli Dukuh Mbotok, Desa Bumiharjo — saat kita duduk bersama di acara Spektra Journey. Dan malam itu, Mas Suwardi juga menitipkan sapaan hangat khusus untuk teman-teman seangkatannya yang beliau ingat satu per satu.
Cerita Awal: Dari Dukuh Mbotok ke Pintu Madrasah
Mas Suwardi mengenang bahwa di tahun-tahun itu, nama “Tarbiyatul Banin” masih sangat asing bagi masyarakat Desa Bumiharjo. Orang tua tahu sekolah ya cuma SMP, SMA, SMEA. Namun, berkat cerita dari orang tua Mas Syafi’i (putra Bapak Fajar) yang lulus dari Sanawiyah Tarbiyatul Banin dan melanjutkan ke guru agama di Lasem, semangat bersekolah agama akhirnya merembet ke Dukuh Mbotok.
Mas Suwardi bercerita bagaimana ayahnya memanggil beliau dengan bahasa Jawa yang hangat:
“Le, le lungguh, Bapak arep ngomong. Masmu kae yo wis sekolah umum kae tamat sema. Masmu sekolah umum, mbok kowe sekolah ning sanawiyah. Sak ora-arane nek kowe sekolah agama, sok nek kowe balik ning masyarakat paling ora kowe gak iso tahlil karo moco berjanji. Urip ning desa iku le, nek kowe gak iso moco berjanji, gak iso moco tahlil, nek kowe diundang tonggomu kajatan, lingsem raimu mesti kowe niluk delok iku wong-wong sing tahlil.”
Artinya kurang lebih: “Nak, duduk sini, Bapak ingin bicara padamu. Mas-masmu sudah sekolah umum. Kamu nanti yang sekolah di Sanawiyah saja. Paling tidak kalau pulang ke masyarakat, kamu bisa baca tahlil dan berjanji. Orang desa kalau tidak bisa baca tahlil, nanti kalau diundang tetangga meninggal, malu kan wajahmu?”
Dan meskipun sudah diterima di SMP Negeri, Mas Suwardi akhirnya memilih jalan ke Sanawiyah Tarbiyatul Banin karena kata-kata sederhana namun dalam dari orang tuanya itu.

Malam itu, Mas Suwardi secara spontan menyebut satu per satu nama teman-teman seangkatannya di MTs Tarbiyatul Banin, lengkap dengan asal dukuh dan desanya masing-masing:
Teman satu kelas: Mas Hujat, Mas Hambali, Abu Naim, Mas Sukimin, Mujias, Pak Hafid, Sukori, Mbak Endang Jaroah, Mbak Inamah, dan Mbak Siti Salamah.
Dari Tambaktambah Mulyo (Mbak Kapas): Matori dan Supat.
Dari Sonorejo: Nyamat.
Dari Sumber Mulyo: Mas Solekan.
Dari Mojorembun: Mas Jono.
Dari Njulu: Tasripan (yang sekarang jadi kepala desa) dan Laseman.
Dari Pagendisan: Sahli dan Sukahar.
Dari Mbodeh: Pak Muhadi.
Dari Katan: Modin Abas.
Selain itu, beliau juga menyebut teman-teman angkatan pertama MA Tarbiyatul Banin: Mbak Maimonah, Mbak Endang (Pekalongan), Abbas (Keban), Mas Jono (Mojorembun), Mas Darom, Mas Solekan (sekarang perangkat desa di Sumber Mulyo), Nyamat, Matori, Kang Paat, Parnan (yang kini jadi ustaz di Kalimantan), Tasripan, Laseman, Kadam, Giarto (Minjing Jati), Sahri, Safari, Mas Monji (Kalongan), Mas Sujak, dan Pak Hafid.
Tidak ketinggalan, beliau menyebut juga “geng nakal” mereka — anak-anak yang “nakal dalam artian berani meraih cita-cita”, bukan nakal yang bermasalah. Mas Suwardi dengan tersenyum mengatakan:
“Senakal-nakalnya Wardi, alhamdulillah tidak pernah berurusan dengan polisi dalam urusan kriminal. Semua berkat didikan dari Tarbiyatul Banin.”
Kenangan Berlantai Tanah dan Anyaman Bambu
Mengenang masa MTs dan MA di tahun-tahun itu, Mas Suwardi menggambarkan kondisi yang mungkin akrab bagi siapa saja yang pernah menjadi siswa di sana:
“Jalan masih belum diaspal, belum ada listrik. Ketika musim hujan itu nuntun sepeda ya mulai dari ujung Kalongan pertigaan sampai ke MTS, lebih banyak nuntunnya. Kalau pengin jalur yang lebih pendek, nuntunnya lewat lapangan — masih tanah mulus.”
Dan salah satu kenangan paling manis adalah soal toleransi para guru terhadap sepatu siswa. Di musim hujan, banyak yang datang ke sekolah bukan untuk masuk kelas dulu, tapi cari air untuk mencuci kaki — karena sepatu sangat mengganggu saat melewati lumpur.
“Pakai sandal boleh, pakai sepatu boleh, nyakar pun boleh. Gurunya sangat toleran. Kadang-kadang sepatu ditaruh di tas, nanti kalau sampai sekolahan baru dipakai. Pulang, copot lagi.”
Ruang kelas MA angkatan pertama pun masih sangat sederhana. Lantai tanah, dinding anyaman bambu disekat triplek, belum ada pintu — karena bangunan masih baru. Bangku panjang satu bangku untuk tiga orang (jejer telu), dan total angkatan pertama langsung banyak, sekitar 36 siswa.
Sosok-Sosok Guru yang Kian Dikenang
Mas Suwardi menyebut beberapa guru yang paling berkesan:
Almarhum Pak Lahuri (guru Bahasa Inggris lulusan Gontor) — yang cara mengajarnya sangat detail. Tidak hanya pakai bahasa Indonesia, tapi dicari kosakata bahasa Jawa dan Arabnya sekaligus. Beliau selalu datang dengan wajah ceria, memberi salam, dan menanyakan kabar. Tidak pernah lupa membawa “ngelinding” rokoknya — simbol kesederhanaan yang luar biasa.
Pak Nur Yahya (guru Quran Hadis) — yang memegang kitab kuning pondok pesantren, bukan buku kurikulum biasa. Cara penyampaiannya pakai makna gandul, mudah dipahami, dan selalu disampaikan dalam bahasa Jawa. Beliau lebih sering pakai sarung.
Pak Ismail (guru PMP) — yang profilnya rapi dan “necis”.
Pak Jabir (guru Kesenian) — yang ngajarin lagu sholawatan di depan kelas.
Dan banyak guru lain yang tidak sempat beliau sebutkan satu per satu. Yang beliau garis bawahi adalah:
“Guru pada waktu itu sangat ngemong sekali dengan murid-muridnya. Mereka tidak mengabdi untuk yang lain, tapi benar-benar berjuang dan rida atas ilmu yang diberikan kepada murid.”
Dari Desa Pekalongan ke Tanah Rantau Sulawesi
Setelah lulus MA tahun 1984, Mas Suwardi sempat mau jadi polisi seperti kakaknya — tapi nasib berkata lain. Gigi sakit bengkak setiap kali ada pendaftaran, dua kali berturut-turut. Akhirnya, Agustus 1985, beliau merantau ke Sulawesi Tenggara bersama seorang teman tamatan SMA 1 Rembang.
Beliau berangkat naik kapal dari Surabaya ke Makassar, lalu lewat darat ke Kendari. Di sana, beliau bertemu Pak Ir. Munari (pria Tawung, lulusan UGM) yang bekerja di Dinas Perkebunan Sulawesi Tenggara. Beliau kemudian diterima sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di desa transmigrasi Kecamatan Tinanggia — yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Poso.
Dan dari sinilah, “ruh Banin” Mas Suwardi bekerja. Beliau tidak hanya menanam kakao, cengkeh, dan kelapa hibrida, tapi juga:
– Membentuk forum komunikasi remaja masjid se-Kecamatan Tinanggea — dengan kegiatan keagamaan, ceramah, bedah rumah untuk warga tidak mampu, dan kegiatan sosial rutin sebulan sekali.
– Membangun 2 masjid — satu rehabilitasi dari 6 meter menjadi 12 meter, satu lagi dari nol.
– Membangun 10 musala lebih.
– Mendirikan 2 Madrasah Tsanawiyah — di Desa Adaka Jaya dan Desa Andoolo Utama di Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara yang kemudian mendapat respon dari Bupati dan Departemen Agama setempat, termasuk dukungan finansial dari Bosowa Lines (milik Haji Kalla).
“Saya merasa punya bekal dari Tarbiyatul Banin. Saya tidak pernah mengislamkan orang Kristen — yang penting saudaraku, dulurku yang sudah Islam bisa kembali kuat ke Islam lagi. Itu sudah luar biasa.”
Mas Suwardi menyebut bahwa semua itu lahir bukan dari perintah guru, tapi dari keprihatinan melihat kondisi masyarakat transmigrasi yang hidup dalam keterbatasan dan mulai tergerus oleh pengaruh organisasi keagamaan lain.
Ketika Kerusuhan Poso Memaksa Pulang
Tahun 1999, desa yang ditinggali Mas Suwardi — yang berbatasan dengan Poso — mulai terdampak kerusuhan. Teman-teman mulai tidur di rumahnya untuk menjaganya. Suasananya mencekam.
Beliau sempat pulang ke Jawa sendirian, menyampaikan kondisi sebenarnya kepada keluarga. Secara ekonomi, beliau sebenarnya sudah cukup — punya kebun kakao, kebun lada, empat kapling lahan, rumah sendiri, istri, dan dua anak. Namun, ancaman keamanan terus membayangi.
Mertuanya keberatan beliau pulang ke Jawa dan meninggalkan istri serta anak. Namun, berkat sowan ke Mbah Mail (Kiai Haji Ismail) di Tawung — rumah beliau di sebelah selatan Masjid Kawangrejo — akhirnya Mas Suwardi diizinkan pulang bersama keluarga.
“Nek kowe eman anak bojomu, yo balik Jawo ae. Ora usah ngondeli kebonmu.”
Beliau tinggalkan semua yang sudah beliau bangun di Sulawesi — kebun, tanah, rumah — dan pulang hanya membawa istri dan anak-anak.
Kembali ke Bumi Pati: Petani Inovatif Terbaik Kabupaten Pati
Tahun 1999, Mas Suwardi kembali ke Desa Bumiharjo. Tidak lama di desa, beliau ditawari kakaknya untuk mengabdi di pemerintahan. Beliau menolak dan memilih kembali ke sawah — menjadi petani.
Dan dari sinilah, karakter “ning ngarep” (di depan) yang ditempa di Tarbiyatul Banin kembali terbukti. Beliau bukan hanya menjadi anggota kelompok tani, tapi terpilih menjadi Ketua Kelompok Tani, kemudian Ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Beliau bahkan meraih gelar Petani Terinovatif Terbaik se-Kabupaten Pati, lengkap dengan sertifikat dan inovasi alat-alat pertanian yang mempermudah kerja sesama petani.
“Begitu saya terjun di bidang pertanian, bukan hanya menjadi petani tradisional. Kalau saya masuk kelompok, saya bukan menjadi anggota — saya tetap terpilih menjadi ketua. Itu bukti dari apa yang saya dapat di Tarbiyatul Banin.”
Pesan Mas Suwardi untuk Pengurus dan Dewan Guru Masa Kini
Mas Suwardi tidak lupa menyampaikan harapan-harapannya untuk Tarbiyatul Banin ke depan. Beliau mengakui secara jujur bahwa gaung Tarbiyatul Banin saat ini masih kalah dibanding yayasan lain di Winong seperti Alfalah, Darul Ma’la, dan Raudatus Suban Tawung. Namun beliau menyampaikan itu dengan maksud membangun, bukan menjatuhkan.
Beberapa masukan yang beliau titipkan:
Pertama, pertahankan ciri khas dan moto Tarbiyatul Banin — “Terdepan dalam ilmu, terpuji dalam laku.” Jangan hilangkan pelajaran Muhadarah (pidato) yang sudah mengakar 6 tahun sejak MTs hingga MA, karena itu adalah bekal hidup bermasyarakat.
Kedua, jangan hilangkan Ujian Lisan — karena di situlah mentalitas pejuang ditempa. Satu siswa dihadapi tiga guru, tidak bisa asal-asalan.
Ketiga, kembangkan ekstrakurikuler yang bisa “dijual” ke masyarakat — misalnya qasidah modern, qori-qariah, atau tilawah Quran. Bahkan bisa membuka bimtek baca Quran gratis di masjid-masjid sekitar dengan pembimbing dari murid-murid Tarbiyatul Banin.
Keempat, tingkatkan olahraga dengan mendatangkan pelatih spesialis — bukan hanya mengandalkan guru penjaskes. Mas Suwardi mengenang dulu Tarbiyatul Banin tidak pernah kalah saat lomba 17-an di Kecamatan Winong, terutama di voli dan sepak bola. Bahkan beliau sendiri pernah mewakili kejuaraan tenis meja hingga tingkat Pati.
Dan beliau menutup dengan permohonan maaf yang tulus:
“Izinkan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Dewan Guru Tarbiyatul Banin yang pada waktu itu dengan sabar dan ikhlas mendidik saya. Kalau ada kenakalan saya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terutama untuk Bapak Lahuri, Bapak Nur Yahya, Bapak Jabir, Bapak Judi, Bapak Alwan, Pak Maskur, dan Bapak Ibu guru yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Saya belum bisa membalas Tarbiyatul Banin dengan hal-hal yang positif.”
“Jangan cari narasumber alumni Tarbiyatul Banin yang kayak saya. Cukup satu kali saja saya. Seharusnya orang-orang yang top di atas saya itu banyak sekali — ada yang di pengadilan agama, ada yang jadi hakim, ada yang jadi dosen, ada yang jadi camat, ada yang jadi kepala desa.”
Terakhir, beliau berpesan kepada seluruh alumni — dari angkatan pertama 1980 hingga angkatan-angkatan sesudahnya:
“Kami adalah angkatan yang benar-benar diuji. Jika hari ini madrasah ini megah, itu karena ada tetesan keringat dan doa dari mereka yang bersedia belajar di tengah keterbatasan.”
“Pendidikan di Banin mengajarkan kami untuk iso urip (bisa hidup) dan ning ngarep (di depan). Bukan karena kita haus jabatan, tapi karena kita memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan manfaat.”
“Karena kita adalah Banin, dan Banin adalah kita.”
Kisah Mas Suwardi bukan hanya milik satu orang. Ia adalah sejarah ingatan bersama bagi seluruh angkatan pertama, para guru perintis, dan masyarakat yang telah mewakafkan segalanya demi tegaknya Madrasah Tarbiyatul Banin. Dan bagi teman-teeman angkatan 1994 dan seterusnya — warisan inilah yang seharusnya terus kita rawat, kita jaga, dan kita teruskan.
Semoga nyala api perjuangan ini tetap menyala di jantung peradaban Winong, Pati, dan mencetak manusia-manusia unggul yang senantiasa hadir di garis depan pengabdian masyarakat.
Jurnalis: Fais, Alvin, Hilal I Penyelaras: Faiz I Tukang Foto: Alvin Dokumentasi: Program Spektra Journey Episode 5, MA Tarbiyatul Banin, Studio, Selasa 7 Juli 2026, pukul 20.35 WIB
Berkas foto: IG YTB
Konfirmasi data: Akurasi Data
Tinggalkan Komentar