Info Sekolah
Senin, 27 Jul 2026
  • Selamat Datang di Yayasan Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong Pati
  • Selamat Datang di Yayasan Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong Pati
28 Juni 2026

Madrasah ini Milik Masyarakat: Modal Sosial dan Harmoni Pendidikan di MA Tarbiyatul Banin

Ming, 28 Juni 2026 Dibaca 16x

Penulis: Tim SPEKTRA Journey

Fenomena institusi pendidikan yang lahir dan tumbuh dari rahim masyarakat pedesaan merupakan salah satu kekayaan sosiologis di Indonesia. Madrasah, sebagai lembaga pendidikan Islam, sering kali tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial dan manifestasi identitas kolektif warga setempat. Artikel ini menyajikan analisis deskriptif mengenai konsep “madrasah milik masyarakat” dengan mengambil studi kasus pada Madrasah Aliyah (MA) Tarbiyatun Banin, Winong, Pati. Melalui pendekatan sejarah lisan yang terekam dalam program *Spektra Journey*, tulisan ini mengeksplorasi bagaimana modal sosial masyarakat pedesaan mampu membangun, mempertahankan, dan mengembangkan sebuah institusi pendidikan di tengah arus modernisasi.

Tujuan utama dari penulisan ini adalah untuk mengurai benang merah antara sejarah pendirian madrasah dengan dinamika hubungannya bersama lingkungan sekitar pada masa kini. Dengan memahami akar historis tersebut, diharapkan dapat ditemukan pola-pola partisipasi publik yang relevan untuk diadaptasi oleh lembaga pendidikan lain dalam membangun ekosistem sekolah yang harmonis dan berkelanjutan.

Jejak Historis dan Pembentukan Modal Sosial

Keberadaan MA Tarbiyatun Banin tidak dapat dilepaskan dari kuatnya ikatan gotong royong masyarakat pada masa awal pendiriannya. Berdasarkan penuturan Bapak Faiz Al-Muqtabar, putra dari K.H. Jabir Hasan (mantan pimpinan madrasah periode 1980-2000), proses pembangunan fisik sekolah ini sangat bergantung pada partisipasi aktif warga. Tradisi “kerja bakti” menjadi fondasi utama, di mana para siswa, guru, dan masyarakat bahu-membahu mengambil material bangunan seperti pasir secara langsung dari sungai terdekat. Proses pengecoran bangunan pun dilakukan secara manual dengan melibatkan tenaga sukarela dari penduduk sekitar.

Selain kontribusi tenaga, masyarakat juga memberikan dukungan material yang signifikan. Lahan yang digunakan untuk kompleks madrasah, khususnya di bagian timur, merupakan hasil wakaf dari tokoh masyarakat setempat, yakni Mbah Haji Jayusman (putra Mbah Sukur). Tidak berhenti pada infrastruktur fisik, dukungan operasional juga mengalir dalam bentuk “jaminan guru”. Pada masa itu, masyarakat secara bergiliran menyediakan konsumsi harian bagi para pendidik. Praktik ini menunjukkan tingkat kepedulian yang luar biasa, di mana masyarakat merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan kesejahteraan para guru yang mendidik anak-anak mereka.

Dinamika Hubungan Madrasah dan Lingkungan

Kuatnya modal sosial yang terbangun sejak awal pendirian madrasah terus terpelihara hingga saat ini, menciptakan sebuah ekosistem yang harmonis antara sekolah dan lingkungan sekitarnya. Salah satu indikator paling nyata dari harmoni ini adalah simbiosis mutualisme di sektor ekonomi mikro. Keberadaan madrasah telah membuka peluang usaha bagi warga sekitar, khususnya para pedagang makanan ringan. 

Pihak sekolah menerapkan kebijakan “bina lingkungan” yang akomodatif namun tetap terukur. Pada jam kegiatan belajar mengajar (KBM) aktif, kedisiplinan ditegakkan secara ketat dengan melarang siswa keluar dari area sekolah. Namun, pada jam istirahat, madrasah membuka akses bagi siswa untuk berinteraksi dan bertransaksi dengan para pedagang di sekitar lingkungan sekolah. Kebijakan ini tidak hanya memberikan dampak ekonomi positif bagi warga, tetapi juga memudahkan pihak sekolah dalam memantau jenis jajanan yang dikonsumsi siswa karena lokasinya yang berdekatan.

Seiring berjalannya waktu, peran pemerintah dalam mendukung pendidikan madrasah semakin nyata melalui berbagai bantuan fasilitas dan infrastruktur. Menariknya, masuknya bantuan pemerintah tidak serta-merta mematikan partisipasi masyarakat. Justru terjadi sinergi yang unik, di mana bantuan pemerintah sering kali dilipatgandakan manfaatnya melalui swadaya masyarakat. Sebagai contoh, ketika madrasah menerima bantuan untuk membangun satu ruang kelas, partisipasi tambahan dari masyarakat memungkinkan pembangunan tersebut berkembang menjadi dua atau tiga ruang kelas. Hal ini membuktikan bahwa mentalitas kemandirian dan rasa memiliki masyarakat terhadap madrasah tetap terjaga dengan baik.

Transformasi dan Visi Masa Depan

Meskipun berakar kuat pada tradisi pedesaan, MA Tarbiyatun Banin tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Transformasi ini terlihat jelas dari evolusi media komunikasi sekolah, di mana buletin cetak siswa “Spektra” kini telah bertransformasi menjadi platform digital “Spektra Journey”. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk mendokumentasikan memori kolektif sekaligus menjangkau audiens yang lebih luas di era informasi.

Dalam aspek akademik, madrasah ini mengusung visi besar: “Terdepan dalam Ilmu, Terpuji dalam Laku”. Visi ini mengisyaratkan komitmen untuk menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan keluhuran budi pekerti. Untuk mewujudkan hal tersebut, sekolah telah melakukan berbagai inovasi kurikuler dengan membuka program-program khusus, seperti Kelas Digital, Kelas Sains, dan Kelas Tahfidz, di samping Kelas Reguler. Diversifikasi program ini menunjukkan kesiapan madrasah pedesaan untuk bersaing secara kualitas tanpa harus kehilangan identitas dan nilai-nilai lokalnya.

“Jadi antara kekuatan fikir dan dzikir memang harus seimbang. Sehingga untuk mencapai ‘terdepan dalam ilmu’, kita harus membuka diri dengan perkembangan yang ada, jangan sampai terlalu menutup diri, dengan tetap mempertahankan ciri khas.” — Bapak Faiz Al-Muqtabar.

Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa MA Tarbiyatun Banin merupakan representasi otentik dari konsep “madrasah milik masyarakat”. Institusi ini lahir dari rahim gotong royong, dibesarkan oleh kepedulian kolektif, dan terus berkembang melalui sinergi yang harmonis dengan lingkungannya. Modal sosial berupa kepercayaan, jaringan, dan norma resiprositas yang terbangun sejak puluhan tahun lalu terbukti mampu menjadi fondasi yang kokoh bagi ketahanan lembaga pendidikan.

Di tengah tantangan modernisasi, madrasah ini membuktikan bahwa pelestarian nilai-nilai tradisional dapat berjalan beriringan dengan inovasi pendidikan. Langkah MA Tarbiyatun Banin dalam merawat memori kolektif dan mengelola hubungan baik dengan masyarakat sekitar patut menjadi model rujukan bagi lembaga pendidikan lain. Pada akhirnya, sekolah yang kuat bukanlah sekadar bangunan megah yang berdiri terasing dari lingkungannya, melainkan institusi yang denyut nadinya menyatu dengan napas kehidupan masyarakat di sekitarnya. Dan tentunya tetap kritis dan responsif dalam mitigasi masalah-masalah yang timbul dan tenggelam.

Tim Penulis: Alfin, Hilal, Suhadi

Penyelaras: Alfin 

Referensi

[1] Transkrip Wawancara *Spektra Journey: Sekolahan Ini Milik Masyarakat*, MA Tarbiyatun Banin, 27 Juni 2026.

[1] MA TARBIYATUL BANIN WINONG KAB. PATI. (2026, Juni 27). SPEKTRA JOURNEY | SEKOLAHAN INI MILIK MASYARAKAT [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/live/COEVY2sTn70

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar