Info Sekolah
Rabu, 05 Agu 2026
  • Selamat Datang di Yayasan Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong Pati
  • Selamat Datang di Yayasan Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong Pati
2 Agustus 2026

Sambang Pesantren RMI PWNU Jawa Tengah di Pati: Perkuat Silaturrahim, Tertibkan Administrasi, dan Dorong Santri Melek Teknologi

Ming, 2 Agustus 2026 Dibaca 202x

SPEKTRA MA TARBIYATUL BANIN WINONG – 2 Agustus 2026 – Ponpes Madinatul Qur’an Winong

Pati – RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) PWNU Jawa Tengah bersama Madinatul Qur’an menggelar kegiatan Halaqah Sambang Pesantren di Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Kegiatan ini mengundang sekitar 150 pondok pesantren se-Kabupaten Pati dan menjadi langkah konkret dalam memperkuat jaringan, meningkatkan kualitas pengasuhan, serta menertibkan administrasi pesantren di bawah naungan NU.

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan pengasuh, musrif (pembina), admin pondok, kepala Madrasah Diniyah, serta pelaku media pesantren. Dalam sesi wawancara, narasumber utama, Pak Hilal (Jauhar Hilal) dari ketua panitia Halaqoh Sambang Pesantren, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program turba (turun bawah) PWNU untuk membina pondok pesantren di tingkat daerah.

Enam Halaqah untuk Penguatan Ekosistem Pesantren

Kegiatan Sambang Pesantren dikemas dalam enam halaqah dengan fokus berbeda, yaitu:

  1. Halaqah Pengasuh
    Memberikan pembinaan dan ruang berbagi bagi para pengasuh pondok terkait pola pengasuhan santri yang efektif dan berkarakter.
  2. Halaqah Musrif (Pembina Pondok)
    Diperuntukkan bagi para musrif/pembina, dengan materi peningkatan profesionalisme dalam menangani santri, termasuk upaya pencegahan kekerasan di lingkungan pondok.
  3. Halaqah Admin
    Fokus pada penertiban administrasi pondok agar data dan dokumen lengkap, terhubung hingga ke pusat data NU di Jakarta, dan memenuhi standar Kemenag, termasuk dalam pengurusan IJOP (Izin Operasional Pondok Pesantren).
  4. Halaqah Media
    Mengarahkan pondok untuk mengembangkan jurnalistik dan media internal, sehingga santri terlatih dalam kegiatan kepenulisan, peliputan, dan pengelolaan media massa pondok.
  5. Halaqah Madin (Madrasah Diniyah)
    Diperuntukkan bagi para kepala Madrasah Diniyah guna menyelaraskan arah dan kualitas pendidikan diniyah di bawah koordinasi NU.
  6. Halaqah keenam disebutkan ada dalam rangkaian, meskipun detail temanya tidak dijelaskan secara rinci dalam wawancara ini.

Melalui enam halaqah ini, RMI PWNU Jawa Tengah ingin memastikan bahwa pondok pesantren tidak hanya kuat secara keagamaan, tetapi juga tertib administrasi, aman dari kekerasan, dan memiliki narasi positif di mata publik. Pak Hilal mengungkapkan bahwa total pondok pesantren di Kabupaten Pati mencapai sekitar 300-an. Dalam tahap ini, RMI mengundang sekitar 150 pondok dengan target kehadiran minimal 100 pondok.

“Banyak, nggih. Kalau total keseluruhan itu ya lebih banyak lagi. Se-Pati itu kan ada sekitar 300-an pondok pesantren. Kita undang separuh, gitu. Dengan target 100 hadir,” ujar Pak Hilal.

Kehadiran ratusan pondok ini menjadi modal penting untuk membangun jejaring kuat antar-pesantren di Pati, sekaligus memastikan bahwa informasi dan kebijakan dari PWNU dan RMI dapat tersampaikan hingga ke tingkat akar rumput.

Pesantren Aman, Berkualitas, dan Terkoneksi Data Pusat

Salah satu pesan utama dalam kegiatan ini adalah pentingnya menjadikan pondok pesantren sebagai:

  • Tempat yang aman bagi santri, bebas dari kekerasan dan pelanggaran.
  • Pusat pendidikan berkualitas yang mencetak calon pemimpin agama dan bangsa.
  • Lembaga yang tertib administrasi dan terhubung dengan data pusat NU serta standar Kemenag.

“Kegiatan ini memiliki salah satu tujuan agar pondok pesantren itu secara administrasi lengkap. Jadi tidak hanya sekedar ada kegiatan, tapi identifikasinya kurang lengkap. Jadi ini langsung nyambung ke pusat, ke pusat data NU di Jakarta,” tegas Pak Hilal.

Ia menambahkan bahwa melalui pembekalan bagi pengasuh, musrif, dan admin, diharapkan pondok pesantren benar-benar menjadi pusat penggemblengan calon pemimpin bangsa dan pemimpin agama.

Dalam kesempatan yang sama, Dewi Safitri Peserta dari ponpes Bunyanun Marshush Kajen Pati menyampaikan harapan besar terhadap dampak kegiatan ini bagi pesantren di Pati:

“Harapan saya sangat besar pada kegiatan pagi ini ya, yang dilaksanakan oleh PBNU dan RMI Jawa Tengah. Yakni semoga untuk pondok pesantren, khususnya di daerah Pati, semoga bisa lebih berkembang dan lebih maju sehingga dapat dikenal di mata dunia bahwa santri tidak hanya ngaji, namun santri juga melek teknologi.”

Harapan ini sejalan dengan beberapa rencana tindak lanjut, antara lain:

  • Sinkronisasi kurikulum dan materi pembelajaran antar-pesantren.
  • Pembentukan forum pertemuan berkala untuk membahas isu-isu khusus ke depan.
  • Pembentukan grup komunikasi seluruh pondok pesantren di Pati.
  • Pendampingan bagi pesantren kecil yang jumlah santrinya belum memenuhi batas minimal kriteria (sekitar 15–25 santri) agar tetap tercover dalam data dan terbantu pengurusan IJOP.

Rencana pendampingan ini melibatkan PCNU dan tokoh terkait (disebutkan nama Pak Yusuf) untuk memastikan pesantren kecil tidak tertinggal dalam proses administrasi dan legalitas.

Ibu pengasuh/perwakilan Pondok Pesantren Raudhatul Hikmah, Mojolawaran, yang menyampaikan pandangan dari sisi pengasuh pesantren.

Melalui keterlibatan pelajar dalam wawancara dan dokumentasi, kegiatan Sambang Pesantren ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran praktis bagi santri dalam bidang jurnalistik dan media, sesuai dengan semangat Halaqah Media yang digulirkan RMI.

Kegiatan Sambang Pesantren RMI PWNU Jawa Tengah di Pati menegaskan arah besar gerakan pesantren di lingkungan NU:

  • Memperkuat silaturrahim antar-pesantren.
  • Menjamin keamanan dan kualitas pendidikan di pondok.
  • Menertibkan administrasi dan legalitas (IJOP) sesuai standar Kemenag.
  • Membangun narasi bahwa santri tidak hanya ngaji, tetapi juga melek teknologi, media, dan siap bersaing di tingkat global.

Dengan adanya forum berkala, grup komunikasi, dan pendampingan khusus bagi pesantren kecil, diharapkan ekosistem pesantren di Pati semakin kokoh, inklusif, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keagamaannya.

Jurnalis: Eka

Penyelaras : Risda

Fotografer : Diana

Tim Spektra MA Tarbiyatul Banin

[1]: ” Transkip Wawancara Spektra MA Tarbiyatul Banin, dengan Jauhar Hilal Ketua Panitia”

[2]: “Transkip Wawancara Spektra MA Tarbiyatul Banin, dengan Dewi Safitri Peserta dari ponpes Bunyanun Marshush Kajen Pati”

[3]: “Transkip Wawancara Spektra MA Tarbiyatul Banin, dengan ibu pengasuh/perwakilan Pondok Pesantren Raudhatul Hikmah, Mojolawaran”

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar