WINONG, Pati — Berangkat ke madrasah setiap pagi adalah langkah penting. Namun, bagi Dr. H. Shofa’u Qolbi Djabir, Lc., M.A., siswa perlu melangkah lebih jauh: memahami untuk apa mereka belajar dan masa depan seperti apa yang ingin mereka perjuangkan. Pesan itu disampaikan alumni MA Tarbiyatul Banin tersebut dalam Spektra Journey ke-9 bersama Suhadi di ruang podcast madrasah, 1 November 2026.
Dalam dialog yang dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi MA Tarbiyatul Banin, Shofa mengajak siswa tidak sekadar mengikuti arus pertemanan. Cita-cita perlu disertai kesadaran untuk menyiapkan kemampuan, menggunakan waktu dengan sungguh-sungguh, dan berani meminta bimbingan ketika menemui kesulitan.
Profil resmi Pengadilan Agama Pandeglang mencatat Shofa sebagai alumni MI dan MTs Tarbiyatul Banin, kemudian MA Tarbiyatul Banin pada 1995. Ia melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Al-Azhar, magister di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta pendidikan doktor Ilmu Hukum di Universitas Jayabaya.
Dalam perjalanan pengabdiannya, ia pernah memimpin Pengadilan Agama Gedong Tataan. Sejak 26 Mei 2026, ia menjabat Wakil Ketua Pengadilan Agama Pandeglang. Rekam jejak tersebut menghadirkan contoh bahwa perjalanan belajar dari madrasah dapat berlanjut ke ruang keilmuan dan tanggung jawab yang lebih luas.
Meski demikian, percakapan ini tidak semata berkisar pada gelar atau jabatan. Shofa kembali pada hal yang dekat dengan siswa: kemauan belajar, kebiasaan menyiapkan diri, serta penghargaan kepada guru yang pernah mendidiknya. Keberhasilan bukan alasan untuk melupakan akar, melainkan kesempatan untuk menyemangati generasi berikutnya.
Shofa menjelaskan pendekatan start from the end: membayangkan tujuan akhir, kemudian menyiapkan langkah menuju ke sana. Dua orang bisa sama-sama berangkat belajar, tetapi memiliki kesiapan berbeda ketika salah satunya memahami apa yang ingin dicapai. Tujuan yang dikenali membantu siswa menentukan kemampuan yang perlu diperkuat.
Bagi siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, langkah itu dapat dimulai dengan mengenali bidang yang diminati dan mencari informasi bersama guru. Bagi peminat sains, kesungguhan dapat dilatih melalui pemahaman konsep, pertanyaan yang bermakna, dan pengujian gagasan dalam riset aplikatif. Minat olahraga juga membutuhkan tujuan latihan yang jelas; perhatian pada beban latihan, pemulihan, dan kesehatan melalui prinsip sport science menjadi arah pembinaan yang relevan.
Tujuan membantu siswa menata prioritas dan mengevaluasi kemajuannya. Tidak semua siswa harus sudah memiliki pilihan profesi yang pasti. Cita-cita boleh berkembang, tetapi kesungguhan belajar tidak perlu menunggu sampai seluruh jawaban tentang masa depan ditemukan.
Salah satu kenangan Shofa tentang masa sekolah di Banin adalah belajar kelompok selepas Isya di rumah orang tuanya. Ketika tidak semua siswa memiliki buku atau diktat, mereka bergabung dengan teman yang mempunyai bahan belajar, menyalin materi, lalu mempelajarinya bersama.
“Karena enggak semua siswa itu punya buku”
Shofa’u Qolbi
Alumni MA Tarbiyatul Banin · Spektra Journey ke-9
Yang layak diwariskan bukan keterbatasannya, melainkan kesungguhan dan solidaritasnya. Kini, kelompok pertemanan dapat menjadi ruang diskusi, akses internet dapat digunakan untuk memperkaya referensi, dan pemahaman pelajaran dapat dibagikan kepada teman tanpa mengurangi semangat berprestasi.
Ia juga mengenang Bu Siti Maryam yang memberi fondasi bahasa Arab melalui pengajaran yang jelas dan mudah dipahami. Ketika memasuki jenjang aliyah, pengalaman belajarnya meluas melalui organisasi dan kegiatan di luar kelas yang didampingi guru. Dalam ingatannya, kedekatan dengan pendidik menjadi bagian penting dari proses tumbuh di Banin.
Bagi calon siswa dan orang tua, kisah alumni memberi kesempatan untuk mengenal budaya belajar madrasah lebih dekat. Memilih sekolah tidak hanya berarti memilih tempat mengikuti pelajaran, tetapi juga lingkungan yang dapat membantu anak membangun tujuan, menjaga akhlak, dan belajar hidup bersama.
Perhatian terhadap studi lanjut juga memiliki contoh dalam arsip resmi yayasan. Pemberitaan 11 Maret 2025 melaporkan sarasehan siswa kelas XII yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Kegiatan itu melibatkan tim peningkatan mutu MA, kepala madrasah, guru bimbingan dan konseling, unsur yayasan, serta praktisi lembaga bimbingan belajar, dan merumuskan rencana bimbingan bersama untuk persiapan UTBK.
Jejak kegiatan tersebut menunjukkan upaya membicarakan cita-cita bersama kebutuhan persiapannya. Sementara itu, perjalanan Shofa merupakan kisah pribadi yang dapat menginspirasi, bukan jaminan bahwa setiap siswa akan menempuh universitas atau profesi yang sama. Setiap anak berhak membangun jalannya sendiri melalui kemampuan yang ditekuni dan dukungan yang tepat.
“Jadi adik-adik saya jangan pernah pesimis ya, jangan pernah merasa tidak bisa”
Shofa’u Qolbi
Pesan kepada siswa dalam Spektra Journey
Pesan itu dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: menuntaskan materi yang belum dipahami, bertanya ketika buntu, atau menyediakan waktu belajar bersama. Jika hasil belum sesuai harapan, perbaiki cara belajar dan cari bantuan. Usaha, doa, serta penghormatan kepada guru menjadi bagian dari semangat yang ia sampaikan.
Dari ruang podcast MA Tarbiyatul Banin, kisah Shofa mempertemukan pengalaman alumni dengan harapan generasi berikutnya. Untuk calon siswa yang ingin bertumbuh dalam lingkungan berakar pada tradisi pesantren dan terbuka pada ilmu, percakapan ini menjadi undangan untuk mengenal MA Banin lebih dekat: tentukan tujuan, siapkan langkah, dan jaga laku.
Tinggalkan Komentar